Friday, August 12, 2011
Sorry
Kutemui pagi yang bersinar….Membawaku kembali bersama dirimu yang tak seharusnya ada di sampingku dan tersenyum manja……Benarkah kau yakin aku harus mencoba katakan apa yang tlah kau rasa….Maafkan diriku sahabatku….. Tak pernah kubayangkan semua ini berbeda…. Ternyata begitu cepat kau ubah semua……Sorry sorry dia mencintaiku Lebih dari dia mencintaimu…..Maafkan dirinya bersamaku……Apakah semua akan baik saja??Saat kedua mata bercerita….Hangat pelukan yang pernah ada…..Genggam erat tanganku berkata….Benarkah kau yakin aku harus mencoba katakan apa yang tlah kau rasa…..Maafkan diriku sahabatku….sorry..sorryyy
Thursday, August 11, 2011
PGC - membeli bahagia?
Hmffttttttt….apa yang bisa saya katakan??TIDAK ADA!!!!!saya tertegun disini…..
Pagi ini saya berniat mencari keluarga binaan….saya pun memacu motor saya melewati jalan aspal ini menuju jalan setapak tanah berdebu dihiasi rumput2 liar serta didampingi oleh lahan2 olahan warga…saya bersama seorang teman saya yang duduk di boncengan saya, segera mencari2 rumah2 diantara lahan2 itu….
tiba2 mata kami tertuju pada bangunan reot di tengah ladang..teman saya pun menyarankan saya untuk berhenti di rumah ini….saya segera menyetujuinya….dan seperti biasa, beberapa anjing menyambut kedatangan kami dengan hangatnya….kami tidak menghiraukannya, dan segera masuk ke rumah itu…rumah itu terdiri dari 2 bangunan (yang sama2 reotnya)..satu bangunan dari bedeg (anyaman bambu) beralaskan tanah dan beratapkan jerami…satu bangunan lagi terbuat dari batako, berlantaikan semen dan beratapkan seng…masing2 rumah tersebut tidak lebih dari 5x5 meter luasnya….dan ada cubang (tempat penampungan air) di halaman itu…halamannya berdebu, namun tampak beberapa tanaman yang cukup berguna, seperti ketela dan jambu menghiasi halaman itu….
kemudian muncul lah seorang nenek menyambut kami…nenek lusuh, dengan baju yang saya rasa jarang sekali dicuci, memakai tongkat dan mengunyah sirih….ia Nampak heran dengan kedatangan kami…kami berusaha menjelaskan, namun nampaknya pendengarannya terganggu, sehingga kami mesti teriak2 di hadapannya…menyusul datanglah 2 orang kakek yang saya taksir umurnya diatas 70 tahun dengan pakaian dan kondisi yang cukup lusuh…mereka juga berusaha menyambut kami, namun dengan pendengaran mereka yang kurang, komunikasi kami terhambat dan rupanya suara kami yang hampir bisa dikatakan berteriak ini, apalagi ditambah dengan gonggongan anjing yang tak henti2nya, mengundang seorang tetangga mereka datang menemui kami….
dari tetangga inilah, kami banyak mendapatkan info tentang kakek nenek ini…ternyata mereka bertiga bersaudara….2 kakek ini tidak pernah menikah…nenek ini pernah menikah, namun sudah cerai…alhasil mereka tinggal bertiga…kondisi mereka memang sakit2an…hanya 1 yang masih lumayan kuat, bernama kakek Purud….kakek Purud inilah yang “menghidupi” 2 saudaranya ini…beliaulah yang bekerja serabutan demi mendapat sesuap nasi…beliau juga yang memasak nasi serta sayur mayur untuk kebutuhan sehari2…..listrik mereka dapatkan dari tetangga mereka…air mereka dari air hujan…..
dari info yang saya dapat, keluarga ini merupakan keluarga angkat pak bupati…dan setiap bulan mereka memang mendapat santunan sembako di posyandu lansia…..namun faktanya saya mendapati kondisi mereka seperti inii…saya sebagai manusia juga memiliki rasa iba….saya membayangkan apa jadinya jika saat malam hari salah satu dari mereka sakit, apakah mereka bisa membawanya ke pusat pelayanan kesehatan??meningat tidak adanya sarana transportasi yang mereka miliki dan jarak antar tetangga yang cukup jauh….
miris melihat hal ini….sedih…..ketika dimana saya pernah membeli bahagia, menghabiskan 125 ribu saya untuk bermain tembak2an atau mungkin 50 ribu saya untuk secangkir kopi, di pihak lain, mungkin 10 ribu sangat berarti bagi mereka….saya pun secara pribadi otomatis membelikan mereka sembako…ditambah dengan teman2 lain, sembako pun semakin banyak….memang tidak cukup untuk sebulan, namun setidaknya kami ada perhatian terhadap mereka….terlintas ide untuk memberikan sesuatu yang lebih pada mereka….saya pun segera mengirimkan pesan ke semua kontak di BB saya untuk ikut berpartisipasi…beberapa respon pun berdatangan,..kini saya dan teman2 sedang menunggu sumbangan2 itu..berharap jumlahnya lumayan banyak dan berguna bagi mereka….
saya sempat bercerita tentang ini kepada kakak saya, ia mengatakan dengan singkat “dan jangan pernah berpikir bahwa mereka tidak bahagia”….simpel…yaa, kebahagiaan tidak bisa diukur dengan harta benda….tidak bisa diukur dengan apapun….saya bisa menilai hidup mereka tidak bahagia dan terbelakang…namun saya tidak mengetahui isi hati mereka, mungkin mereka hidup dengan bahagia, tulus menjalani hidup dengan kasih sayang 3 bersaudara ini…what can I say???
semoga mereka bahagia dengan hidupnya…
PGC – pelajaran tentang hidup
PGC, PPD atau nama lazimnya KKN, adalah proses terakhir (sebelum UKDI) yang mesti saya lewati untuk menambahkan gelar dokter di depan nama saya….PGC kali ini bertempat di kabupaten Bangli…awalnya saya sempat kesal dengan program ini…
pertama, karena bertempat di Bangli….Bangli, belum genap 2 minggu sebelum saya PGC, terjadi kerusuhan disana….pertikaian antar warga yang bermula dari masalah sepele dan berakhir dengan tewasnya seorang warga….hal ini jelas mengusik saya, karena saya akan tinggal disana selama 1 bulan….
kedua, karena penempatan kami diacak…biasanya, tiap PGC menggunakan kelompok diskusi….tapi kali ini tidak….bukan maksud saya tidak mau membaur dengan teman2, namun setidaknya saya lebih mengenal teman 1 kelompok diskusi saya…saya mengetahui watak2 mereka….saya yakin saya bisa bekerja dengan mereka selama sebulan ke depan ini….setidaknya jika saya 1 kelompok dengan teman diskusi saya, masalah pertama sudah teratasi, yaitu adaptasi kelompok kerja….sudahlah, hal ini sudah terjadi, dan sebagai mahasiswa “alim” khas Bali, kami pun menerima keputusan dekanat itu…
tibalah hari H…saya beserta 38 orang lainnya ditempatkan di ujung kecamatan Bangli, yaitu di desa Pengotan…kami terbagi lagi menjadi 4 kelompok yang membawahi 8 banjar yang ada di Pengotan…..kami diberikan “tempat tinggal” berupa puskesmas pembantu dan balai desa….yang laki2 di balai desa dan yang perempuan di puskesmas pembantu….desa ini, layaknya desa2 lain d daerah pegunungan mempunyai permasalahan bagi kami (orang2 yang lama tinggal d denpasar)…udara disini dingin!!!bahkan jam 5 sore pun kabut sudah turun menyelimuti desa ini…..penduduk disini juga terkesan sepi, mereka umumnya memiliki pondok2 yang tersebar di ladang2 mereka…..dan permasalahan utama yang kami hadapi adalah minimnya air!!yaaa, disini tidak ada akses PDAM…bahkan sumber mata air pun minim…warga memanfaatkan air hujan yang ditampung dalam bak besar, sesekali mereka mesti membeli air seharga 130 ribu 1 truk…..
ketika saya ditempatkan disana, saya berpikir “seandainya saya diberi 10 orang teman pilihan saya disini, saya bisa berbuat sesuatu untuk daerah ini”…seketika muncul ide2 gila saya beberapa kegiatan yang mesti saya lakukan…hal pertama, tentu saja, kami mesti menyiapkan benteng kami, tempat menginap serta tempat meringkuk kami dari serangan diginnya Pengotan….
di hari pertama kedua, saya sempat kecewa dengan beberapa orang teman saya….dari 20 orang laki2 (jika beberapa orang diantaranya tetap bisa dikategorikan laki2), hanya sebagian yang benar LAKI-LAKI…..disinilah saya bisa menilai teman2 saya sebenarnya, ketika kami ditempatkan dalam posisi sulit…..beberapa orang memiliki inisiatif tinggi, etos kerja yang hebat serta memiliki inovasi tinggi…saya sangat hargai orang2 ini….beberapa orang tidak memiliki inisiatif, namun giat bekerja…saya suka orang2 ini…..beberapa orang terkesan banyak omong, namun juga cakap dalam bekerja….saya salut dengan orang2 ini, seimbang lah...nah ada juga yang selalu terlambat, tidak bekerja, banyak omong atau sekarang mengatakan ya, tapi kenyataan tidak…ini tai namanya…perlu saya ulangi?..yup…TAI….
saya rasa banyak teman2 saya yang hanya iri ato ikut2an dengan teman di desa lain….keadaan kami memang cukup timpang….sementara kami deitempatkan di desa yang bahkan tidak ada airnya, teman2 kami di desa lain ada yang mendapatkan base camp di rumah seorang professor ortopedi dosen kami, serta ada yang mendapat penginapan untuk base camp mereka…..WTF dengan itu…..menurut saya, inilah PGC…inilah saatnya terjun ke masyarakat…bekal PTT nanti…lupakan fasilitas mewah…lupakan semuanya…..we learn how to survive here..PENGOTAN!!!
pertama, karena bertempat di Bangli….Bangli, belum genap 2 minggu sebelum saya PGC, terjadi kerusuhan disana….pertikaian antar warga yang bermula dari masalah sepele dan berakhir dengan tewasnya seorang warga….hal ini jelas mengusik saya, karena saya akan tinggal disana selama 1 bulan….
kedua, karena penempatan kami diacak…biasanya, tiap PGC menggunakan kelompok diskusi….tapi kali ini tidak….bukan maksud saya tidak mau membaur dengan teman2, namun setidaknya saya lebih mengenal teman 1 kelompok diskusi saya…saya mengetahui watak2 mereka….saya yakin saya bisa bekerja dengan mereka selama sebulan ke depan ini….setidaknya jika saya 1 kelompok dengan teman diskusi saya, masalah pertama sudah teratasi, yaitu adaptasi kelompok kerja….sudahlah, hal ini sudah terjadi, dan sebagai mahasiswa “alim” khas Bali, kami pun menerima keputusan dekanat itu…
tibalah hari H…saya beserta 38 orang lainnya ditempatkan di ujung kecamatan Bangli, yaitu di desa Pengotan…kami terbagi lagi menjadi 4 kelompok yang membawahi 8 banjar yang ada di Pengotan…..kami diberikan “tempat tinggal” berupa puskesmas pembantu dan balai desa….yang laki2 di balai desa dan yang perempuan di puskesmas pembantu….desa ini, layaknya desa2 lain d daerah pegunungan mempunyai permasalahan bagi kami (orang2 yang lama tinggal d denpasar)…udara disini dingin!!!bahkan jam 5 sore pun kabut sudah turun menyelimuti desa ini…..penduduk disini juga terkesan sepi, mereka umumnya memiliki pondok2 yang tersebar di ladang2 mereka…..dan permasalahan utama yang kami hadapi adalah minimnya air!!yaaa, disini tidak ada akses PDAM…bahkan sumber mata air pun minim…warga memanfaatkan air hujan yang ditampung dalam bak besar, sesekali mereka mesti membeli air seharga 130 ribu 1 truk…..
ketika saya ditempatkan disana, saya berpikir “seandainya saya diberi 10 orang teman pilihan saya disini, saya bisa berbuat sesuatu untuk daerah ini”…seketika muncul ide2 gila saya beberapa kegiatan yang mesti saya lakukan…hal pertama, tentu saja, kami mesti menyiapkan benteng kami, tempat menginap serta tempat meringkuk kami dari serangan diginnya Pengotan….
di hari pertama kedua, saya sempat kecewa dengan beberapa orang teman saya….dari 20 orang laki2 (jika beberapa orang diantaranya tetap bisa dikategorikan laki2), hanya sebagian yang benar LAKI-LAKI…..disinilah saya bisa menilai teman2 saya sebenarnya, ketika kami ditempatkan dalam posisi sulit…..beberapa orang memiliki inisiatif tinggi, etos kerja yang hebat serta memiliki inovasi tinggi…saya sangat hargai orang2 ini….beberapa orang tidak memiliki inisiatif, namun giat bekerja…saya suka orang2 ini…..beberapa orang terkesan banyak omong, namun juga cakap dalam bekerja….saya salut dengan orang2 ini, seimbang lah...nah ada juga yang selalu terlambat, tidak bekerja, banyak omong atau sekarang mengatakan ya, tapi kenyataan tidak…ini tai namanya…perlu saya ulangi?..yup…TAI….
saya rasa banyak teman2 saya yang hanya iri ato ikut2an dengan teman di desa lain….keadaan kami memang cukup timpang….sementara kami deitempatkan di desa yang bahkan tidak ada airnya, teman2 kami di desa lain ada yang mendapatkan base camp di rumah seorang professor ortopedi dosen kami, serta ada yang mendapat penginapan untuk base camp mereka…..WTF dengan itu…..menurut saya, inilah PGC…inilah saatnya terjun ke masyarakat…bekal PTT nanti…lupakan fasilitas mewah…lupakan semuanya…..we learn how to survive here..PENGOTAN!!!
Saturday, August 6, 2011
B-4

Awalnya kami merupakan sekumpulan mahasiswa dari latar belakang, daerah, serta budaya yang berbeda….awalnya kami hanya sekumpulan mahasiswa yang disatukan di dalam bilik 4x4 meter ini….kami dipertemukan setiap hari….kami “dipaksa” berdiskusi setiap hari yang jelas2 bukan kebiasaan kami semenjak SMA..tak pelak di masa2 awal kuliah, diskusi kami cenderung kaku, terkesan hanya menyelesaikan learning task dan self assessment yang tersaji d depan kami, jarang disertai dengan gelak tawa…
Kami adalah
Astika Putera alias OPONK…itu saya!...Opik Mahendra mahasiswa asal luar pulau, seorang teman yang simpel…Oka Mahendra selalu susah bangun pagi, namun selalu datang terpagi jika ujian…dialah yang mencarikan kami bangku ujian…Darma Yuda cukup pintar, pandai berdiskusi, mungkin itulah letak kelebihannya, di mulutnya….Diah Witari seorang vegetarian, kadang2 sedikit tidak nyambung…Dian Lestari selalu menjadi bahan ejekan teman2 laki2…karena rekornya 20 tahun menjomblo…ia pernah kami buat menangis…Mustika Dewi seorang vegetarian garis keras, tutur katanya bak putri keraton solo jika tidak ingin dibilang lambat….Dwija Pratiwi layaknya ibu bagi kelompok ini…pemikirannya dan penampilannya dewasa, jika tidak ingin disebut tua…Pramitha Dewi si penakut..bahkan ia tidak berani memakai charger teman, walopun untuk seri HP yang sama…Nova Diantari pernah pingsan saat diskusi…maaf nov, saya murni menggendong, tidak ada memegang badanmu yang lain..hahahah..Simran a.k.a Simi, warga Malaysia yang ikut kelompok kami…kelebihannya dalam berbahasa inggris, kadang kami manfaatkan sebagai kamus di kelompok ini…Muhammad Mahir, manusia ini hanya beberapa saat diantar kami hingga lenyap tak tahu rimbanya..
Dengan berjalannya waktu, kemampuan diskusi kami semakin bertambah seiring dengan makin akrabnya antar personel SGD….terkadang porsi becanda kami jauh lebih banyak dibanding porsi diskusi kami…terlebih jika fasilitator tidak datang….tak jarang kami mendapat “ketukan halus” dari fasilitator SGD sebelah guna meredam volume suara kami….
Kami pun makin mengenal pribadi masing2 individu…begitu banyak keunikan diantara anggota SGD ini….kedekatan kami tidak hanya berhenti di bilik sgd itu…d ruang pleno, d kantin bahkan kami sering keluar bersama2 diluar aktifitas kampus….kami bercanda seakan tidak ada sekat pembatas diantara kami…terkadang memang berlebihan…meskipun beberapa kali sempat sampai ada amarah, air mata dan emosi diantara kami, namun tetap semua itu kami anggap sebagai wujud kasih sayang diantara kami…
Kami bangga dipertemukan di DIMORPHIX…kami bangga dipertemukan di bilik SGD ini….
Bagi kami, SGD B4 kemarin, hari ini, esok dan selamanya…..
Tuesday, July 12, 2011
berhenti di 13??
13?..sebagian orang mengidentikkan angka ganjil ini dengan hal2 mistis di luar nalar sehat seseorang…..golongan PNS (pegawai negeri sipil) mengartikannya lain, yaa, terkadang mereka mendapat gaji ke-13 meskipun tidak ada bulan ke-13…..lain hal nya dengan saya, seorang mahasiswa, sekarang saya dihadapkan dengan angka 13….yaa, saya mesti bayar spp yang ke-13…
Ketika orang lain menanyakan lama kuliah saya, dengan “senang dan bangga” saya menjawabnya dengan angka 6 tahun!!!...cukup lama mengingat teman angkatan SMA saya kini banyak yang sudah bekerja, sudah diangkat sebagai PNS, hingga sedang melanjutkan study S2 nya, sementara saya masih berkutat menyelesaikan pendidikan profesi S1 saya…..6 tahun saya menjadi mahasiswa, saya asumsikan saya hanya menempuh 12 semester, itu artinya 12 kali saya mesti membayar SPP….
4 tahun pertama saya habiskan d bangku kuliah….dengan SPP itu, wajarlah, saya mendapat fasilitas gedung yang cukup mewah, ruang kuliah yang kondusif, toilet, tempat parkir dsb…..
2 tahun terakhir, saya habiskan “mengembara”, berkeliling di Bali, menuntut ilmu..praktis, dari spp itu, saya hanya mendapat ilmu, bimbingan dari supervisor (jawaban seorang idealis), dan mess di setiap rumah sakit yang mesti saya kunjungi….catat, dari 1,4 juta yang saya bayarkan tiap 6 bulan, d beberapa tempat saya bahkan tidak diperkenankan mengambil masker dan caps yang notabene harganya Cuma seribu, dan bahkan ada rambu baru, rambu dilarang parkir untuk kaum kami…
Kini di penghujung masa “kuliah” saya, dimana saya tinggal menyelesaikan pre graduate course, ujian kompetensi, wisuda dan pelantikan, saya juga mesti membayar spp ke-13 saya…..yang saya tahu, setiap kegiatan yang akan saya ikuti, saya pun mesti membayar sejumlah uang untuk pelaksanaannya…..jadi untuk apa spp ke-13 ini? jika ada yang mengetahuinya, tolong beritahu saya….
Ketika orang lain menanyakan lama kuliah saya, dengan “senang dan bangga” saya menjawabnya dengan angka 6 tahun!!!...cukup lama mengingat teman angkatan SMA saya kini banyak yang sudah bekerja, sudah diangkat sebagai PNS, hingga sedang melanjutkan study S2 nya, sementara saya masih berkutat menyelesaikan pendidikan profesi S1 saya…..6 tahun saya menjadi mahasiswa, saya asumsikan saya hanya menempuh 12 semester, itu artinya 12 kali saya mesti membayar SPP….
4 tahun pertama saya habiskan d bangku kuliah….dengan SPP itu, wajarlah, saya mendapat fasilitas gedung yang cukup mewah, ruang kuliah yang kondusif, toilet, tempat parkir dsb…..
2 tahun terakhir, saya habiskan “mengembara”, berkeliling di Bali, menuntut ilmu..praktis, dari spp itu, saya hanya mendapat ilmu, bimbingan dari supervisor (jawaban seorang idealis), dan mess di setiap rumah sakit yang mesti saya kunjungi….catat, dari 1,4 juta yang saya bayarkan tiap 6 bulan, d beberapa tempat saya bahkan tidak diperkenankan mengambil masker dan caps yang notabene harganya Cuma seribu, dan bahkan ada rambu baru, rambu dilarang parkir untuk kaum kami…
Kini di penghujung masa “kuliah” saya, dimana saya tinggal menyelesaikan pre graduate course, ujian kompetensi, wisuda dan pelantikan, saya juga mesti membayar spp ke-13 saya…..yang saya tahu, setiap kegiatan yang akan saya ikuti, saya pun mesti membayar sejumlah uang untuk pelaksanaannya…..jadi untuk apa spp ke-13 ini? jika ada yang mengetahuinya, tolong beritahu saya….
car "FREE?" day
“Car Free Day”….belakangan ini, idiom tersebut sering menghampiri telinga kita….per definisi, tentu saja itu artinya “Hari Tanpa Mobil”….satu hari tanpa adanya mobil yang bersliweran d jalan raya…..suatu definisi yang mulia, mengingat polusi di Negara ini makin parah…
Namun, sudah lazim ketika definisi,tujuan dan pelaksanaan suatu progam di Negara ini tidak koheren…lihatlah di hari minggu di beberapa kota besar…memang benar di pusat kota tidak ada mobil, motor, maupun kendaraan bermotor lainnya…yang ada hanya masyarakat yang menaiki sepeda gayung, anak2 dengan skateboardnya atau berjalan2 dengan hewan kesayangan mereka..
Jika anda mendefenisikan kondisi diatas sebagai “car Free Day” yang bertujuan mengurangi polusi, yaa, mungkin anda akan menganggap program ini berhasil…program yang brilian untuk mengurangi polusi….
Namun, jika anda menengok jalan2 kecil yang merupakan jalan kolateral dari jalan utama (yg dijadikan area “car free day”) anda akan merasakan perbedaan yang signifikan….jalan2 tersebut jelas hanya jalan2 kecil…tidak sebesar jalan utama….namun setiap hari minggu, mereka harus menampung luapan arus lalu lintas…tebak apa yang terjadi…yaa, MACET!!!!….pendapat saya, jika macet maka semakin banyak asap kendaraan yang dihasilkan…asumsinya jika saya bisa mencapai tujuan dengan waktu 15 menit, namun karena macet, akhirnya saya tiba dalam waktu 30 menit….mana lebih banyak asap motor yg saya hasilkan??ketika macet ato tidak?....dengan perbedaan jumlah kendaraan bermotor yang tidak berbeda secara signifikan, saya rasa, polusi yang dihasilkan di “car Free Day” lebih banyak….
Jadi apakah “car Free Day” dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor sehingga mengurangi polusi?...atau hanya sekedar pengalihan arus lalu lintas dan membuat macet jalan sekitarnya???renungkan dan jawab sendirii…lebih bijak rasanya jika pemerintah menerapkan aturan semacam “Nyepi” untuk masyarakat…sehingga benar2 bisa mengistirahatkan alam dan bisa mengurangi polusi…
Namun, sudah lazim ketika definisi,tujuan dan pelaksanaan suatu progam di Negara ini tidak koheren…lihatlah di hari minggu di beberapa kota besar…memang benar di pusat kota tidak ada mobil, motor, maupun kendaraan bermotor lainnya…yang ada hanya masyarakat yang menaiki sepeda gayung, anak2 dengan skateboardnya atau berjalan2 dengan hewan kesayangan mereka..
Jika anda mendefenisikan kondisi diatas sebagai “car Free Day” yang bertujuan mengurangi polusi, yaa, mungkin anda akan menganggap program ini berhasil…program yang brilian untuk mengurangi polusi….
Namun, jika anda menengok jalan2 kecil yang merupakan jalan kolateral dari jalan utama (yg dijadikan area “car free day”) anda akan merasakan perbedaan yang signifikan….jalan2 tersebut jelas hanya jalan2 kecil…tidak sebesar jalan utama….namun setiap hari minggu, mereka harus menampung luapan arus lalu lintas…tebak apa yang terjadi…yaa, MACET!!!!….pendapat saya, jika macet maka semakin banyak asap kendaraan yang dihasilkan…asumsinya jika saya bisa mencapai tujuan dengan waktu 15 menit, namun karena macet, akhirnya saya tiba dalam waktu 30 menit….mana lebih banyak asap motor yg saya hasilkan??ketika macet ato tidak?....dengan perbedaan jumlah kendaraan bermotor yang tidak berbeda secara signifikan, saya rasa, polusi yang dihasilkan di “car Free Day” lebih banyak….
Jadi apakah “car Free Day” dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor sehingga mengurangi polusi?...atau hanya sekedar pengalihan arus lalu lintas dan membuat macet jalan sekitarnya???renungkan dan jawab sendirii…lebih bijak rasanya jika pemerintah menerapkan aturan semacam “Nyepi” untuk masyarakat…sehingga benar2 bisa mengistirahatkan alam dan bisa mengurangi polusi…
Saturday, April 30, 2011
SKANDAL JEPIT

Pagi ini saat mengikuti sebuah acara ilmiah, tiba2 blackberry saya terus menerus mengeluarkan suara…ternyata di hampir semua grup BBM yg saya ikuti, sedang membahas 1 “masalah”….pagi itu rupanya sebuah Koran tipis 12 halaman yang bernama Bali Express (bahkan nama Koran ini baru saya dengar) mengangkat satu topic menarik dengan judul “bila Warga Mulai Gerah Lihat Ulah Dokter Muda Bekerja Dengan Sandal Jepit…..Aturan Internal Lemah, Ikuti Jejak Senior”….ya, begitu besar tulisan itu terpampang pada halaman 5 koran Bali Express edisi 30 April 2011….sebagai seorang dokter muda, saya pun tergelitik untuk membeli Koran tersebut, ingin membaca langsung berita yang terpampang dengan mata saya sendiri, bukan berdasarkan provokasi teman2…
Betapa terkejutnya saya membaca berita itu….saya sebagai dokter muda yang merasa dipojokkan oleh pemberitaan itu ingin sedikit angkat bicara…CATAT, INI OPINI PRIBADI SAYA, BUKAN PERNYATAAN RESMI DARI INSTANSI YANG MENAUNGI SAYA..
Satu, secara sekilas tulisan saudara YOG lebih mengarah ke subjektifitas YOG sendiri….tidak ada nilai objektifitas sama sekali pada tulisan anda bung…kurang berbobot dan kurang berlandas bukti untuk dicantumkan di Koran yang beredar di seluruh bali…
Dua, pada paragraph pertama tertulis “profesionalisme sendiri diyakini tidak hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan yang dijalani, termasuk semua aspek pendukung,,salah satunya penampilan”…hey bung YOG…penampilan??kalau anda diposisi kami, apakah anda sempat akan memperhatikan penampilan???untuk sekedar tidur 1-2 jam saja kami jarang, apalagi memperhatikan penampilan…anda belum tahu siklus kami…saya asumsikan jam kerja normal itu jam 7 pagi sampai jam 1 siang…kami mesti datang lebih pagi dari jam 7, terkadang jam 5.30 kami sudah datang di rumah sakit…kalau kami jaga, jam 1 lepas jam kerja, kami mesti menunaikan tugas jaga hingga keesokan harinya, langsung dilanjutkan dengan jam kerja biasa…hitung sendiri berapa jam kami d rumah sakit, berapa jam kami tidak tidur…bandingkan dengan jam tidur anda bung YOG…sempatkah kami memperhatikan penampilan kami??kalau kami ada waktu, kami akan menanfaatkannya dengan istirahat atau makan, bukan dengan memoles muka kami dengan make up!!!
Tiga, pada paragraph kedua tertulis “saat berada di ruang perawatan, IRD misalnya, sulit dibedakan antara ruang perawatan dengan toilet umum”…pendidikan anda apa sih bung YOG??Sarjana kah??..tamat SMA kah??ato tamat SD saja??nenek nenek yang sudah gak punya gigi pun mampu membedakan IRD dengan TOILET umum…23 tahun saya idup, belum pernah saya menemukan toilet yang diisi begitu banyak orang sakit dengan tabung oksigen, bed pasien dan perlengkapan medis lainnya..
Empat, pada paragraph ketiga tertulis “….termasuk dokter magang yang hanya berperan sebagai tukang suruh dokter….”,”.parahnya tidak sedikit diantaranya yang mengenakan sandal jepit murahan yang biasa ditemukan di toilet umum”…mungkin anda melihat kami sekarang sebagai tukang suruh…ya, kami memang membantu mengantar pasien ke unit radiologi untuk di rontgen, kami juga yang mengambil sampel darah, memasang infuse, memasang NGT maupun kateter...tapi itu semua ada gunanya…kami bisa mencocokkan klinis pasien dengan hasil rontgennya…kami juga belajar skill, sebab jika kami ditempatkan di daerah terpencil, ketika perawat atau bidan gagal memasang infuse, NGT dan sebagainya, kamilah yang akan dikonsulkan untuk memasangnya…sekaranglah kami belajar untuk mengasah skill kami…jika anda sakit, anda berobat kemana bung YOG??bahkan professor maupun dokter spesialis ternama pun melewati fase Co-ass, melewati fase “tukang suruh” seperti bahasa anda…dan mengenai harga sandal jepit kami, kami tidak hanya memiliki sandal 1 pasang saja…kami punya sandal untuk dibawa jalan2 dsb…jika anda di posisi kami dan jaga dengan menggunakan sandal CROCS seharga 800 ribu, itu sah2 saja…namun bagaimanakah perasaan anda, jika sandal 800 ribu anda itu terkena darah atau muntahan pasien saat jaga (yang merupakan resiko pekerjaan kami terkena darah dsb).
Lima, pada paragraph keempat, tertulis komentar warga “nggak tahu dengan yang lain, saya pribadi melihat dokter bersandal sebagai bentuk penghinaan, karena saya dilayani dengan hanya pakai sandal jepit”….kalau memang benar WARGA tersebut mengatakan demikian, anda bung YOG termasuk orang yang BERUNTUNG….anda tumben2an ke IRD dan mendapat complain seperti itu, saya yang sudah hampir 2 tahun sebagai dokter muda dan IRD adalah “tempat main saya sehari2”, belum pernah mendengar complain seperti itu…menurut saya pribadi, saya memakai sandal tidak ada unsur penghinaan sama sekali…asal anda tahu, mobilitas kami tinggi, 30 jam tidak tidur dan terus “cagcag-cigcig”, bayangkan jika saya memakai pantofel selama itu, apakah kaki saya tidak lecet?apakah tidak jamuran??, bagaimana dengan dokter muda wanita?mestikah mereka memakai high heels 30 jam??jawab sendiri bung….selama sandal saya masih di kaki saya, itu memang sudah sepantasnya…jika sandal saya nyangkut di mulut pasien itu baru sebuah penghinaan kepada pasien…namun jika saya mendengar warga tersebut complain langsung ke telinga saya, saya akan menghargainya, sebab pasien merupakan guru terhebat saya….
Enam,jika anda menghakimi saya sebagai “tukang suruh”, “penjaga toilet”, maupun “penghina pasien”, saya juga berhak menghakimi anda!!!…tepat di bawah artikel tentang dokter muda, terdapat artikel mentereng dengan judul “Kisah Penari hotel yang Langsung bisa diboking ke hotel…Pernah Dijos di semak-semak Usai Syuting Video” dengan foto seorang wanita ber paha sebesar batang pohon jati….selain itu, hampir di setiap halaman anda terdapat iklan memperbesar penis dan payudara….apakah pantas berita seperti itu masuk Koran???koran seharusnya menjadi media informasi, media pembelajaran, bukan media penyebaran konten2 pornografi….
Urus moral anda sebelum mengurus moral orang lain!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)